Rumah Budaya Fadli Zon Kembali Luncurkan Buku Puisi

Padangpanjang — Buku puisi terbaru karya penyair Indonesia D. Zawawi Imron berjudul “Mengaji Bukit Mengeja Danau” yang diterbitkan Fadli Zon Library Jakarta akan diluncurkan, Senin (25/3) mendatang pukul 14.00 WIB di Ball Room Rumah Budaya Fadli Zon, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Sejumlah sastrawan Indonesia dari berbagai kota direncanakan menghadiri peluncuran buku penyair Madura ini. Di antara sastrawan itu adalah Taufiq Ismail, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Dinullah Rayes, Radhar Panca Dahana, Korrie Layun Rampan, Gol A Gong, Soni F. Maulana, Ratmana, Damiri Mahmud, LK Ara, Rida K Liamsi, Budi Darma, Saini KM, Ahmad Tohari, Helvy Tiana Rosa, Dorothea Rosa Herliany, Aspar Paturusi, Fakhrunnas MA Djabar, Taufik Ikram Jamil, K.H. Mustofa Bisri, Purnama Soewardi, Isbedi Setiawan, dan sejumlah sastrawan lainnya. Pada kesempatan tersebut juga hadir Fadli Zon, pendiri Rumah Budaya, serta Direktur Rumah Budaya Fadli Zon, Elvia Desita B.Hum.Sc.(Hons).

Para sastrawan Indonesia itu, selain menghadiri peluncuran buku puisi D. Zawawi Imron dan menjadi Tamu Rumah Puisi Taufiq Ismail, sehari sebelumnya dijadwalkan menghadiri Maklumat Hari Sastra Indonesia yang dipusatkan di SMA Negeri 2 Bukittinggi, Minggu (24/3) seperti rilis yang diterima SeputarAceh.com, Jumat (22/3).

Direncanakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti serta mantan Presiden RI BJ Habibie akan hadir di Bukittinggi.

Penyair Taufiq Ismail dalam pengantarnya di buku “Mengaji Bukit Mengeja Danau” menyebutkan, puisi-puisi D. Zawawi Imron dalam buku ini ditulis penyairnya selama sebulan bermukim di Aie Angek ketika menjadi Tamu Rumah Puisi.

“Penyair ini produktif sekali, 110 puisi ditulisnya dalam 30 hari,” ujar Taufiq Ismail.

Disebutkan, kumpulan puisi “Mengaji Bukit Mengeja Danau” ini juga merupakan buku kumpulan puisi pertama karya sastrawan tamu Rumah Puisi yang dapat diterbitkan. Sejak 2008-2013, Rumah Puisi telah mengundang sebanyak 25 sastrawan dari 11 kota di Indonesia (termasuk Singapura dan Kualalumpur).

Sementara itu, Fadli Zon, pendiri Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Sumatera Barat dan Fadli Zon Library di Jakarta dalam pengantarnya menyebutkan, kali pertama membaca buku puisi “Mengaji Bukit Mengeja Danau” ini, terasa kesejukan, kedamaian, dan keselarasan yang meliputi kehidupan alam.

“Irama yang mengalir dalam setiap bait memaksa kita ingin terus melanjutkan membuka halaman demi halaman puisi Zawawi,” ujar Fadli Zon.

Sebagai kyai penyair, sebut Fadli Zon, ada refleksi kemahaagungan Sang Maha Kuasa dalam puisi-puisi yang ditulisnya. “Kita dapat merasakan suasana jiwa penyair yang ingin menyampaikan bahwa alam menghidupkan nurani kemanusiaan kita,” tambahnya.

D. Zawawi Imron lahir di Desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Ia menempuh pendidikan di Pesantren Lambicabbi, Gapura Sumenep. Ia seorang penyair dan kyai. Selain melakukan kegiatan dakwah, Zawawi yang mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982 ini, juga aktif membacakan sajaknya di berbagai tempat, antara lain Yogyakarta, ITS Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta serta di berbagai tempat lainnya.

Buku kumpulan puisinya antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Dusun Siwalan (1979), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Derap-Derap Tasbih (1993), Berlayar di Pamor Badik (1994), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999), Kujilat Manis Empedu (2003), Refrein di Sudut Dam (2003), Zamrud Serambi Madinah (2004), dan Mata Badik Mata Puisi (2012).[]

Saling berbagi

PinIt

Tinggalkan Balasan

Top