Koleksi ‘Gam Cantoi’ Karya M Sampe Edward

MENGENAL ‘Gam Cantoi’ tentu tidak lepas dari Muhammad Sampe Edward Sipahutar, itulah sosok lelaki yang lucu yang begitu setia menuangkan ide dan karya berupa gambar kartun di media certak Harian Serambi Indonesia sejak 1989.

Kini Sang Maestro telah pergi meninggalkan kita, Sabtu (30/3) sekitar pukul 18.50 WIB di RS Herna, Medan. Lelaki yang humoris ini meninggal dunia setelah sekian lama dirawat akibat penyakit yang hinggap di tubuhnya.

Muhammad Sampe Edward meninggalkan seorang istri, drh Cut Intan Manfadzi yang begitu setia mendampinginya sampai saat-saat terakhir serta seorang putra, Alwafi Hafizan (16 tahun).

Mengutip dari Serambinews.com, Minggu (31/3) menyebutkan Sampee Edward adalah sosok kontras Gam Cantoi. Ia memiliki postur tubuh tinggi besar. Vokal berat dan berbicara selalu dalam aksen Medan dengan nuansa Batak. Sementara Gam Cantoi yang menjadi ikon Serambi dilukiskan dengan sosok bertubuh ceking, dengan sehelai ujung rambut runcing melambai-lambai. Gam Cantoi tampil menggelitik, bahkan membuat merah kuping yang menjadi sasaran “olok oloknya”.

Sampe sendiri menyambut fans-nya dengan ramah, walaupun penampilannya memang selalu serius, dan rada pendiam. Figur yang akrab dipangggil dengan “Pak Cik” oleh rekan-rekannya sekantor, toh bisa juga tertawa ngakak kalau ada hal-hal lucu. Kultur Batak memang akhirnya luluh, ketika dia pada tahun 1990 memeluk Islam. Dia disyahadatkan oleh Ketua MUI waktu itu, Prof Ali Hasjmy. Sejak itu “Muhammad” Sampe menjadi muslim yang taat, dan begitu menyatu dengan kultur Aceh.

Sekitar tahun 2009 dia terkena penyakit yang serius. Maskipun sakit, Sampe tetap terus memproduksi kartunnya. Namun penyakit yang diderita makin hari makin parah. Ia terpaksa absen melukis, dan harus dirawat di rumah sakit di Medan. Seiring dengan bergulirnya waktu, Sampe pun terus berjuang melawan penyakit yang begitu kejam menggerogoti.

Beberapa hari lalu, menjelang pangggilan Allah, tiba-tiba Sampe bangun dari sakitnya. Dia meminta kertas dan pensil. Istrinya menuruti permintaan itu. Ternyata Sampe melukis Gam Cantoi untuk melepas kerinduannya pada kartun yang telah menjadi darah dagingnya. Tubuhnya begitu lemah, tapi sosok kartun itu dapatnya diselesaikannya, diiringi linangan air mata sang istri tercinta. Mungkin, Sampe tak sekadar rindu pada kartun legendaris itu. Tapi dengan itu ia ingin menyatakan, betapa Sampe sudah benar-benar menjadi orang Aceh. Dan, di tanah ini pula jasadnya terpeluk dalam iringan doa dan kemuliaannya. Gam Cantoi itu telah pulang.[]

Saling berbagi

PinIt

Tinggalkan Balasan

Top